+ Hujan dan Pelangi

maretabisaterbang:

Hujan. Aku benci hujan. Dan aku benci pelangi. Hujan adalah presipitasi berwujud cairan, luapan kesedihan langit dan alam semesta. Sementara pelangi hanyalah busur cahaya, spektrum warna, mencuri perhatian dengan sejuta keindahan fana.

-

Beberapa bulan terakhir ini kondisi keluargaku sedang berada diambang batas kesulitan. Meskipun aku masih bisa bersyukur karena tetap mendapat makan setiap hari dan tidak perlu bekerja untuk bisa sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan primer yang tidak bisa ayahku penuhi dari penjara, semua kebutuhan sekunder kami dikesampingkan, termasuk kendaraan. Untunglah sebagai anak laki laki pertama dan satu satunya aku sudah terbiasa kemana mana sendirian, hanya saja ashma yang kuderita ini tidak bisa menahan dinginnya hujan. Hujan selalu menghalangiku. Seperti hari ini. Aku dan sepedaku terpaksa berhenti di sebuah toko kue kecil yang usang sambil menunggu hujan. Bukannya berhenti hujan malah semakin menggila. Mungkin duduk dan beristirahat di toko ini sebentar tak ada salahnya.

“Hai!” sebuah suara ringan yang menyenangkan menggelitik telingaku. “Ya?” kataku singkat sambil mencari inhaler di ransel. “Kamu kenapa?” suara itu kembali mengalun berusaha mengalahkan suara riuhnya hujan. “Aku, aku benci hujan, dan aku..” belum selesai aku mengucapkan kata kata andalanku, suara itu kembali menyahut “Namaku Pelangi, kamu siapa?” kepalaku mendongak sebal ketika menemukan sesosok gadis hitam manis berambut ikal yang mengulurkan tangannya. Tidak kuhiraukan tangan yang terulur itu dan tetap mencari inhaler “Namaku Jamus.” ucapku lirih berharap dia pergi karena sejujurnya sosoknya membuat dadaku semakin sesak. “Jamus? Namamu lucu, aku duduk disini ya? Namaku Pelangi" 

“Terserah dan ya, Pelangi, aku sudah dengar namamu Pelangi.” akhirnya aku menemukan benda keramat penyambung hidupku. Kemudian aku terdiam sebentar menatap Pelangi sambil menerka apa yang akan dia pikirkan melihat aku memakai inhaler bodoh ini, ah tapi siapa peduli apa yang dia pikirkan. 

Hujan tak kunjung reda dan Pelangi tidak pernah berhenti mengoceh. Sudah tiga jam kami disini dan mendengarkan ceritanya terkadang membuatku terpancing untuk juga bercerita. Obrolan panjang ini membuatku seperti sudah mengenalnya bertahun tahun. Aku tau dia suka hujan, dan wangi tanah setelah hujan, aku tau dia suka bulan, dan cahaya lembut yang mengitarinya dimalam yang dingin. Aku tau dia sangat menyukai namanya, dan dia sangat bangga atas kesetiaan pelangi menunggu hujan reda. Pelangi, seperti namanya iapun mencuri perhatian dengan sejuta keindahannya. “Jamus, aku suka hujan, karena hujan membuatmu menemukanku." 

-

Ayahku yang sudah terbukti hanya difitnah kembali menafkahi keluargaku. Hidupku perlahan kembali seperti semula. Mobil keluargaku kembali mengantarkanku dikala hari hujan sehingga tidak ada hambatan lagi untukku bisa bepergian. Pelangi berjanji akan menungguku di toko itu setiap kali hujan datang. Tapi Pelangi tidak pernah datang. Sudah empat bulan sejak hujan pertama kami dan tidak pernah lagi kutemukan senyumannya di dalam toko kue usang itu. 

-

Hujan. Aku benci hujan. Dan aku benci pelangi. Hujan adalah presipitasi berwujud cairan, luapan kesedihan langit dan alam semesta, dan hujan membuatku menemukanmu. Sementara pelangi hanyalah busur cahaya, spektrum warna, mencuri perhatian dengan sejuta keindahan fana yang menyapa dikala langit berduka dan hilang saat matahari sudah kembali.

+
+
l0stship:
“Jellyfish (by Arno M.D.C. Burg)
”
+
+
+
+
+
thedenimdouche:
“ The Flat Head
”
+

+
radpeeps:
“ Instagram: @adeltwl @thiswildlife
”
theme by theycalledherlove.